f BIOGAS ~ Arifta - Zona Update

Sunday, 16 March 2014

BIOGAS

        Pada zaman modern seperti saat ini, energi merupakan permasalahan yang krusial. Dengan pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, konsumsi atau permintaan energi pastinya juga meningkat, dimana dapat berakibat membuat makin menipisnya sumber cadangan minyak dunia. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak ini, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden RI No. Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang dapat diperbaharui sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan seperti ini harusnya sudah sejak dari dulu harus dikeluarkan, karena pasokan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi merupakan sumber energi fosil yang tidak dapat diperbarui (unrenewable). Salah satu sumber energi alternatif ini adalah Biogas.
Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya  kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Komposisi dari biogas adalah 50-55% Metana (CH4), 25-45% Karbon Dioksida (CO2), 0-0,3% Nitrogen (N2), 1-5% Hidrogen Sulfida (H2S), dan 0,1-0,5% Oksigen (O2). Nilai kalori dari 1 m3 Biogas disajikan dalam tabel berikut ini :

Dengan kesetaraan yang seperti itu, Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti LPG, minyak tanah, Solar, Bensin, Butana, Batu bara maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil apabila kita dapat mengolahnya seoptimal mungkin. Dilihat dari komposisinya, biogas sebagian besar tersusun atas Metana (CH4) dengan rentang sekitar 50-55%. Gas Metana ini terbentuk karena proses fermentasi yang terjadi secara anaerobik (tanpa melibatkan oksigen) dengan bantuan bakteri. Proses ini biasa disebut juga sebagai anaerobik digestion. Gas metana sama dengan gas elpiji (liquidified petroleum gas/LPG), perbedaannya adalah gas metana mempunyai satu atom C, sedangkan elpiji memiliki atom C yang lebih banyak. Selain itu, salah satu alasan kuat yang lainnya adalah biogas merupakan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Biogas dapat dikatakan merupakan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan disebabkan karena biogas terbuat dari bahan-bahan alami, seperti kotoran hewan dan manusia, serta limbah-limbah organik lain. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan kembali ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer. Biogas juga tidak menghasilkan limbah yang bisa mencemari lingkungan. Gas
metana dalam biogas bisa terbakar sempurna. Sebaliknya, gas metana dalam bahan  bakar fosil tidak dapat terbakar dengan sempurna dan dapat membahayakan lingkungan. Seperti yang kita ketahui metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang bisa menyebabkan global warming. Sehingga apabila kita mengoptimalkan biogas ini, kita bisa mencegah resiko terjadinya global warming. Limbah dari biogas juga dapat digunakan sebagai pupuk. Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.
Berdasarkan bahan baku yang diperlukan dan teknik pembuatan biogas ini, instalasi biogas dapat dibuat  dimanapun dan dapat dihasilkan dimanapun juga. Instalasi biogas dapat dibuat dalam bentuk yang sederhana dan murah, ataupun dalam bentuk yang sedang hingga dalam skala besar untuk kepentingan yang lebih luas juga tentunya.
Pembuatan dan penggunaan biogas sebenarnya sudah dikenal sejak lama, terutama di kalangan petani Inggris, Rusia dan Amerika Serikat. Sedangkan di Benua Asia seperti di negara India, sejak masih dijajah Inggris sudah menjadi pelopor dan pengguna energi biogas yang sangat luas, bahkan sudah disatukan dengan WC biasa. Kebudayaan Mesir, China, dan Roma kuno diketahui telah memanfaatkan gas alam ini yang dibakar untuk menghasilkan panas. Orang pertama yang mengaitkan gas bakar ini dengan proses pembusukan bahan sayuran adalah Alessandro Volta pada tahun 1776. Kemudian pada tahun 1806, Willam Henry dapat mengidentifikasi gas yang dapat terbakar tersebut sebagai methan. Becham pada tahun 1868 salah seorang murid Louis Pasteur dan Tappeiner pada tahun 1882, memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan methan (Rahman, 2005).
Pada akhir abad ke-19 beberapa riset dalam bidang ini dilakukan. Jerman dan Perancis melakukan riset pada masa antara dua Perang Dunia. Beberapa unit pembangkit biogas telah dibangun dengan memanfaatkan limbah pertanian. Selama Perang Dunia II banyak petani di Inggris dan Benua Eropa yang membuat digester kecil untuk menghasilkan biogas yang digunakan untuk menggerakkan traktor. Kegiatan produksi biogas di India telah dilakukan semenjak abad ke 19. Diperoleh informasi juga bahwa alat pencerna anaerobik atau disebut digester pertama kali dibangun pada tahun 1900. Negara berkembang seperti China, Filipina, Korea, Taiwan, dan Papua Niugini, telah melakukan berbagai riset dan pengembangan alat pembangkit gas bio dengan prinsip yang sama, yaitu menciptakan alat yang kedap udara dengan bagian-bagian pokok terdiri atas pencerna (digester), lubang pemasukan bahan baku (inlet) dan pengeluaran lumpur(outlet) sisa hasil pencernaan (slurry) dan pipa penyaluran gas bio yang terbentuk. Sekitar  tahun 1950 pemakaian biogas di Eropa ditinggalkan, karena harga BBM semakin murah dan mudah memperolehnya. Demikian juga di negara-negara berkembang, sumber energi selalu tersedia dengan harga yang murah (FAO, 1981; Rahman, 2005). Namun saat ini, dengan meningkatnya harga minyak di dunia dan kekhawatiran akan habisnya cadangan minyak dunia, maka hampir semua negara kembali melakukan upaya pencarian sumber energi alternatif dan salah satunya adalah biogas. 
Di Indonesia, program pengembangan dan pemanfaatan biogas mulai digalakkan pada awal tahun 1970. Pengembangan tersebut  bertujuan untuk memanfaatkan limbah dan biomassa lainnya dalam rangka mencari sumber energi lain di luar kayu bakar dan minyak tanah. Namun program tersebut tidak berkembang meluas di masyarakat. Hal ini disebabkan karena masyarakat pada waktu itu masih mampu membeli minyak tanah dan gas LPG, untuk kepentingan sehari-hari, disamping itu biaya pembuatan satu unit instalasi biogas  relatif tinggi.
Di beberapa negara di Eropa, biogas ini telah digunakan secara optimal sebagai pembangkit listrik di Erpoa. Bayangkan saja, produksi biogas listrik Erpoa pada tahun 2006 adalah 17.272 GWh per tahun, dimana 7.338 GWh hanya diproduksi oleh Jerman saja. Bagaimana dengan sekarang? Biogas sekarang mewakili 1,2% dari produksi tahunan listrik dan hampir 10% dari energi terbarukan (biomassa lainnya). Instalasi dari Biogas secara global diperkirakan akan mencapai pertumbuhan moderat selama 12 tahun ke depan.

Daftar Pustaka

Anonim. Biogas. Online : http://www.anneahira.com/biogas.htm. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.
Rahman, Burhani. 2005. Biogas, Sumber Energi Alternatif. Online : http://www.energi.lipi. go.id/utama.cgi?artikel&1123717100&4. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.
Syah, Johan. 2011. Makalah Biogas. Online : http://ekologimanusia.blogspot.com /2011/12/makalah-biogas.html. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.
Sasongko, Wahyu. 2009. Teknik Pembuatan Biogas Sederhana. Online : http://biogas sederhana.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.

Yuniawan. 2013. Pemanfaatan Biogas dan Perkembangannya. Online : http://bbpkhcinagara. bppsdmp.deptan.go.id/component/k2/item/50-pemanfaatan-biogas-dan-perkembang annya.html. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.

0 comments:

Post a Comment