Pada
zaman modern seperti saat ini, energi merupakan permasalahan yang krusial.
Dengan pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, konsumsi atau permintaan energi
pastinya juga meningkat, dimana dapat berakibat membuat makin menipisnya sumber
cadangan minyak dunia. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar
minyak ini, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden RI No. Tahun 2006
tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif
sebagai bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut menekankan pada sumber daya yang
dapat diperbaharui sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan
seperti ini harusnya sudah sejak dari dulu harus dikeluarkan, karena pasokan
bahan bakar yang berasal dari minyak bumi merupakan sumber energi fosil yang
tidak dapat diperbarui (unrenewable). Salah satu sumber energi alternatif ini
adalah Biogas.
Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya
kotoran manusia dan hewan, limbah domestik
(rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Komposisi dari biogas adalah 50-55% Metana (CH4),
25-45% Karbon Dioksida (CO2), 0-0,3% Nitrogen (N2), 1-5%
Hidrogen Sulfida (H2S), dan 0,1-0,5% Oksigen (O2). Nilai
kalori dari 1 m3 Biogas disajikan dalam tabel berikut ini :
Dengan
kesetaraan yang seperti itu, Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif
pengganti LPG, minyak tanah, Solar, Bensin, Butana, Batu bara maupun
bahan-bahan lain yang berasal dari fosil apabila kita dapat mengolahnya
seoptimal mungkin. Dilihat dari komposisinya, biogas sebagian besar tersusun
atas Metana (CH4) dengan rentang sekitar 50-55%. Gas Metana ini
terbentuk karena proses fermentasi yang terjadi secara anaerobik (tanpa
melibatkan oksigen) dengan bantuan bakteri. Proses ini biasa disebut juga
sebagai anaerobik digestion. Gas metana sama dengan gas elpiji (liquidified
petroleum gas/LPG), perbedaannya adalah gas metana mempunyai satu atom C,
sedangkan elpiji memiliki atom C yang lebih banyak. Selain itu, salah satu
alasan kuat yang lainnya adalah biogas merupakan bahan bakar alternatif yang
ramah lingkungan. Biogas dapat dikatakan merupakan bahan bakar alternatif yang
ramah lingkungan disebabkan karena biogas terbuat dari bahan-bahan alami,
seperti kotoran hewan dan manusia, serta limbah-limbah organik lain. Karbon
dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis
tanaman, sehingga bila dilepaskan kembali ke atmosfer tidak akan menambah
jumlah karbon di atmosfer. Biogas juga tidak menghasilkan limbah yang bisa
mencemari lingkungan. Gas
metana dalam
biogas bisa terbakar sempurna. Sebaliknya, gas metana dalam bahan bakar fosil tidak dapat terbakar dengan
sempurna dan dapat membahayakan lingkungan. Seperti yang kita ketahui metana
merupakan salah satu gas rumah kaca yang bisa menyebabkan global warming.
Sehingga apabila kita mengoptimalkan biogas ini, kita bisa mencegah resiko
terjadinya global warming. Limbah dari biogas juga dapat digunakan sebagai
pupuk. Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry)
merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang sangat
dibutuhkan oleh tanaman.
Berdasarkan bahan baku yang diperlukan dan
teknik pembuatan biogas ini, instalasi biogas dapat dibuat dimanapun dan
dapat dihasilkan dimanapun juga. Instalasi biogas dapat dibuat dalam bentuk
yang sederhana dan murah, ataupun dalam bentuk yang sedang hingga dalam skala
besar untuk kepentingan yang lebih luas juga tentunya.
Pembuatan dan penggunaan biogas sebenarnya
sudah dikenal sejak lama, terutama di kalangan petani Inggris, Rusia dan
Amerika Serikat. Sedangkan di Benua Asia seperti di negara India, sejak masih
dijajah Inggris sudah menjadi pelopor dan pengguna energi biogas yang sangat
luas, bahkan sudah disatukan dengan WC biasa. Kebudayaan Mesir, China, dan Roma
kuno diketahui telah memanfaatkan gas alam ini yang dibakar untuk menghasilkan
panas. Orang pertama yang mengaitkan gas bakar ini dengan proses pembusukan
bahan sayuran adalah Alessandro Volta pada tahun 1776. Kemudian pada tahun
1806, Willam Henry dapat mengidentifikasi gas yang dapat terbakar tersebut sebagai
methan. Becham pada tahun 1868 salah seorang murid Louis Pasteur dan Tappeiner
pada tahun 1882, memperlihatkan asal mikrobiologis dari pembentukan methan
(Rahman, 2005).
Pada akhir abad ke-19 beberapa riset dalam
bidang ini dilakukan. Jerman dan Perancis melakukan riset pada masa antara dua
Perang Dunia. Beberapa unit pembangkit biogas telah dibangun dengan
memanfaatkan limbah pertanian. Selama Perang Dunia II banyak petani di Inggris
dan Benua Eropa yang membuat digester kecil untuk menghasilkan biogas yang
digunakan untuk menggerakkan traktor. Kegiatan produksi biogas di India telah
dilakukan semenjak abad ke 19. Diperoleh informasi juga bahwa alat pencerna
anaerobik atau disebut digester pertama kali dibangun pada tahun 1900. Negara
berkembang seperti China, Filipina, Korea, Taiwan, dan Papua Niugini, telah
melakukan berbagai riset dan pengembangan alat pembangkit gas bio dengan
prinsip yang sama, yaitu menciptakan alat yang kedap udara dengan bagian-bagian
pokok terdiri atas pencerna (digester), lubang pemasukan bahan baku (inlet) dan
pengeluaran lumpur(outlet) sisa hasil pencernaan (slurry) dan pipa penyaluran
gas bio yang terbentuk. Sekitar tahun 1950 pemakaian biogas di Eropa
ditinggalkan, karena harga BBM semakin murah dan mudah memperolehnya. Demikian
juga di negara-negara berkembang, sumber energi selalu tersedia dengan harga
yang murah (FAO, 1981; Rahman, 2005). Namun saat ini, dengan meningkatnya harga
minyak di dunia dan kekhawatiran akan habisnya cadangan minyak dunia, maka
hampir semua negara kembali melakukan upaya pencarian sumber energi alternatif
dan salah satunya adalah biogas.
Di Indonesia, program pengembangan dan
pemanfaatan biogas mulai digalakkan pada awal tahun 1970. Pengembangan tersebut
bertujuan untuk memanfaatkan limbah dan biomassa lainnya dalam rangka
mencari sumber energi lain di luar kayu bakar dan minyak tanah. Namun program
tersebut tidak berkembang meluas di masyarakat. Hal ini disebabkan karena
masyarakat pada waktu itu masih mampu membeli minyak tanah dan gas LPG, untuk
kepentingan sehari-hari, disamping itu biaya pembuatan satu unit instalasi
biogas relatif tinggi.
Di beberapa negara di Eropa, biogas ini telah digunakan
secara optimal sebagai pembangkit listrik di Erpoa. Bayangkan saja, produksi
biogas listrik Erpoa pada tahun 2006 adalah 17.272 GWh per tahun, dimana 7.338
GWh hanya diproduksi oleh Jerman saja. Bagaimana dengan sekarang? Biogas
sekarang mewakili 1,2% dari produksi tahunan listrik dan hampir 10% dari energi
terbarukan (biomassa lainnya). Instalasi dari Biogas secara global diperkirakan
akan mencapai pertumbuhan moderat selama 12 tahun ke depan.
Daftar Pustaka
Rahman, Burhani. 2005. Biogas, Sumber Energi Alternatif. Online
: http://www.energi.lipi.
go.id/utama.cgi?artikel&1123717100&4. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.
Syah, Johan. 2011. Makalah Biogas. Online : http://ekologimanusia.blogspot.com
/2011/12/makalah-biogas.html. Diakses
pada tanggal 15 Maret 2014.
Sasongko, Wahyu. 2009. Teknik Pembuatan Biogas Sederhana.
Online : http://biogas sederhana.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 15 Maret 2014.
Yuniawan. 2013. Pemanfaatan Biogas dan Perkembangannya.
Online : http://bbpkhcinagara.
bppsdmp.deptan.go.id/component/k2/item/50-pemanfaatan-biogas-dan-perkembang
annya.html. Diakses pada tanggal 15
Maret 2014.








0 comments:
Post a Comment